Nov
25

Sesatkah Komunitas Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu di Indramayu?

Author suket    Category Tulisan     Tags

Lagi, MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan fatwa sesat kepada sebuah komunitas aliran kepercayaan yang berpusat di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu. Fatwa tersebut dikeluarkan MUI atas dasar bertentangan dengan akidah dan ajaran Islam serta berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat.
Apa yang sebenarnya menjadi alasan atas dikeluarkannya fatwa tersebut? Jika diperhatikan atau diamati, komunitas tersebut sudah terbentuk sejak tahun 70-an hingga saat ini. Jika memang berpotensi menimbulkan keresahan di masyarakat, mungkin sudah sejak dahulu masyarakat yang hidup berdampingan dengan penganut aliran tersebut akan mengajukan tuntutan atau merasa terganggu dengan aktivitas komunitas tersebut.


Mungkin yang menjadi alasan dari dikeluarkannya fatwa tersebut adalah melihat dari cara mereka melakukan ritual kepercayaan mereka. Menurut pengakuan komunitas Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandhu, mereka selama ini diajarkan untuk “ngaji rasa terhadap alam semesta” atau menyatukan diri dengan alam”. Ajaran tersebut setidaknya nyaris sama dengan yang diajarkan pada setiap aliran agama yang ada di negara ini. Hanya saja yang membedakan mungkin dari pelaksanaan dari “ngaji rasa terhada alam semesta” tersebut. Jika didalam Islam diwajibkan untuk sholat dan mengaji, umat kristiani menjalankan ibadah setiap minggu di gereja, begitu juga dengan umat hindu dan budha.
Perlu diketahui disini nama komunitas Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu bukan berarti mereka komunitas dari suku dayak yang ada di Kalimantan. Pengertian secara harafiah menurut Takmat Diningrat sesepuh komunitas tersebut adalah sebagai berikut ;
Suku adalah kaki yang bermakna masing-masing individu mempunyai tujuan masing-masing. Kata dayak, berarti ngayak atau menyaring dari sekian banyak manusia atau mengadakan pilihan antara salah dan benar.
Sedangkan kata hindu bukan berarti agama hindu, tetapi yang dimaksud adalah awal manusia sebelum lahir atau terlebih dulu berada dalam kandungan ibu. Budha artinya dalam bahasa Jawa wuda, yang berarti telanjang. Kalau bumi segandu adalah dasar sebagai puser bumi dan Indramayu bermakna darma wong tuwa (darma orang tua) yang merupakan sebagai awal tetapi tidak diketahui awal dan asalnya.
Menarik sekali maksud dan pengertian dari nama komunitas tersebut. Filosofi kehidupan nyata manusia diterapkan dan dijadikan suatu nama bagi komunitas tersebut. Sepintas, penampilan mereka mirip suku Dayak di Kalimantan, namun mereka mengakui tidak ada pertalian sama sekali dengan etnis tersebut.
Lalu bagaimana mereka menjalankan ritual mereka? Komunitas dayak hindu menjalankan ritual penyembahan kepada sang pencipta dan penguasa alam semesta dengan 2 cara, yaitu laku pepe dan laku kungkum. Laku Pepe adalah melakukan ritual dengan cara menjemur diri dibawah terik sinar matahari. Sedangkan laku kungkum pelaksanaan ritual dengan cara berendam di dalam air (sampai sebatas leher) di sebuah sungai kecil di dekat padepokan mereka pada pukul 24.00 sampai pagi hari.
Pada pelaksanaan ritual mereka juga menyanyikan tembang seperti sebuah doa dalam bahasa jawa, yang dalam bahasa jawa sering disebut uro-uro.
Uniknya dalam kehidupan keseharian cara berpakaian mereka hanya mengenakan celana sebatas lutut dan tanpa berpakaian. Menurut mereka kebiasaan bertelanjang dada dimaksudkan agar dapat merasakan sengatan matahari dan dinginnya malam, serta bisa terus menginjak bumi, sebagai bagian keharusan untuk menyatu dengan alam.
Keunikan lainnya, komunitas tersebut tidak menyantap telur atau makanan yang berasal dari hewan. Mereka adalah vegetarian. Bagi mereka hewan juga butuh untuk hidup. Kebanyakan anggota komunitas tersebut memiliki mata pencaharian sebagai petani dan buruh.
Dalam melaksanakan kehidupan sehari-hari mereka pantang atau sangat dilarang untuk melakukan hal-hal dan perbuatan yang bisa merugikan orang lain, melanggar hukum dan menyakiti orang lain. Ajaran tersebut selama ini mereka terapkan dan dilaksanakan dengan tulus.
Menurut pengakuan masyarakat yang selama ini hidup berdampingan dengan komunitas tersebut, mereka tidak pernah merasa terganggu atau resah dengan aktivitas dan ritual yang mereka laksanakan selama ini. Bahkan komunitas tersebut tetap bermasyarakat dengan baik di desa tersebut.
Hanya saja, anggota komunitas tersebut tidak memiliki KTP. Alasannya mereka tidak bisa membuat KTP karena pada pengisian form agama harus di isi, sedangkan mereka adalah penganut kepercayaan. Alasan lain adalah, untuk membuat KTP mereka harus membuat pas photo dan mengharuskan mereka mengenakan pakaian.
Sungguh ironis sekali fatwa sesat yang dikeluarkan MUI. Kriteria sesat yang dikeluarkan MUI tidak ada dasarnya sama sekali. Memang komunitas tersebut bukan sebuah agama baru, bisa dikatakan mereka hanya sebuah aliran kepercayaan yang toh juga diakui di UUD 45. Padahal mereka justru komunitas yang memiliki rasa berketuhanan yang kental, serta memiliki rasa penghargaan terhadap alam semesta yang sangat tinggi.
MUI sangat tidak berhak mengeluarkan fatwa tersebut, bukan hak mereka menyatakan sesat kepada komunitas tersebut. Padahal secara legalitas MUI hanya berhak mengurusi segala sesuatu yang berkaitan dengan permasalahan agama islam yang ada di negara ini. Entah mengapa mereka bisa merambah ke masalah aliran kepercayaan. Atau jika memang MUI mau benar-benar care atau peduli terhadap permasalahan yang berkaitan dengan permasalahan agama islam, kenapa mereka tidak membuat fatwa sesat terhadap para pelaku korupsi yang ada di Departemen Agama atau mereka yang ada di lingkaran kekuasaan yang mengaku beragama islam namun melarikan diri uang negara?
Biarkanlah komunitas tersebut menjalankan kepercayaan mereka dengan damai. Toh mereka juga warga negara indonesia yang mengakui eksistensi negara ini dengan sistem pemerintahan dan pemimpinnya. Akuilah eksistensi komunitas tersebut, karena dengan keyakinan mereka setidaknya bangsa ini masih memiliki warga negara yang berke-Tuhan-an secara nyata dalam kehidupan mereka.

flash back atas sebuah pemikiran yang lalu

10 Comments to “Sesatkah Komunitas Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu di Indramayu?”

  • BlogDokter February 4, 2008 at 2:05 am

    MUI dipenuhi oleh orang orang penghisap darah yang haus akan darah manusia. Sudah berapa nyawa hilang dan harta benda lenyap akibat dari fatwa MUI.

  • prabhakar mishra July 10, 2008 at 3:47 am

    Mussalman…oh Mussalman! Why u did it everywhere???
    Moslems=invaders?
    Mollah=cruel Arabic god\’s men?

    No god but allah=non moslems, thou shalt not lives?
    Is it true my moslem brothers?

  • lintang lanang September 27, 2008 at 5:10 am

    mungkin lebih tepat jika MUI yang dibubarkan saja… :) mayoritas memang berpotensi melahirkan arogansi..

  • lintang lanang September 27, 2008 at 5:13 am

    maksud saya, sifat ke-mayoritas-an memang berpotensi melahirkan arogansi.. terima kasih..

  • thoyes February 5, 2009 at 5:23 pm

    hati2 bikin fatwa mas…akhir2 ini fatwa mui kurang berwibawa… paling aman bikin fatwa pujangga aja deh…

  • Oceanta February 2, 2010 at 7:23 am

    Renungan:

    Kelompok Manusia maupun individu yang merasa benar tentang pendapatnya atau keyakinannya apakah itu merupakan kebenaran?

    Tuhan menciptakan Dunia beserta segala isinya dengan penuh kasih sayang. Yang baik maupun yang buruk (menurut penilaian manusia) obat maupun penyakit, kebaikan dan kejahatan, kelahiran maupun kematian, malaikat maupun iblis … semua adalah ciptaan Tuhan, semua yang ada karena kehendak Nya.

    Semua kitab suci dari semua agama maupun aliran kepercayaan menyatakan bahwa TUHAN MAHA PENGASIH, MAHA PENYAYANG.

    Kalau misalnya sekarang ada manusia atau kelompok manusia yang membenci orang lain maupun kelompok lain karena perbedaan keyakinan (walaupun sebenarnya bukan pokok keyakinannya melainkan cara atau jalan keyakinan atau pelaksanaannya) kira-kira benarkah sikap mereka itu?

    Perlu disadari bahwa dalam kehidupan di dunia ini memang penuh perbedaan, di dalam rumah tangga saja antara suami-istri-anak seringkali terjadi perbedaan-perbedaan pendapat, apalagi di dunia yang jumlah manusianya milyaran.
    Perbedaan bukan untuk diperdebatkan, bukan pula untuk dipertentangkan karena Tuhan memang menciptakan makhluk di dunia ini berbeda-beda.

    Untuk itu marilah kita menumbuhkan rasa kasih dan rasa sayang diantara manusia tanpa memandang keyakinannya, sukunya, bangsanya, derajatnya, pekerjaannya dan sebagainya. Hanya dengan menumbuhkan cinta kasih terhadap dunia beserta isinya dan menjauhi sifat iri, dengki dan benci kita akan dapat mendekatkan diri kepada-Nya karena Tuhan adalah Maha Pengasih dan Penyayang.

    Goldy Oceanta

  • dejer May 24, 2010 at 3:12 pm

    tulisan ini mencerminkan wawasan sang penulis, saya kagum dg tulisan2 anda.
    Indonesia akan maju, dan jaya sejaya majapahit kalau semakin banyak orang2 yg berfikir seperti anda.
    salam kenal.

  • janeka May 26, 2010 at 7:13 am

    Kadang MUI suka keterlaluan

    Dayak segandu adalah sebagian masyrakat adat yang ada di indonesia
    justru MUI harus bangga karena allah menciptakan beragam umat manusia dan allah pasti punya maksud….

    Saya pernah bersama dengan masyarakat adat dayak segandu…..
    mereka yakin dengan adanya tuhan…tetapi mereka biarlah mereka beribadah dengan caranya sendiri….

    ” Agamamu agamamu….agamaku agamaku ”

    kalau MUI seenaknya sendiri menganggap dayak segandu itu sesat……

    Apakah MUI tau, allah setujukah dengan pendapat MUI?????

    Jd Siapa yang SESAT / MENTESATKAN????

  • talino August 4, 2010 at 11:38 am

    saya sungguh tidak setuju dengan keberadaan MUI yang selalu ingin menang sendiri, manjadi menjadi raja biang kaladi bagi semua karusuhan. apa-apa di sesatkan dan di haramkan……….MUI bagaikan racun bagi saya…. arogansi dan memandang dirinya paling banar di mata Tuhan. jangan mangatas namakan Agamis MUI pandanglah dirimu sebagai Ormas yang Independen bagi Indonesia. Munafik sekali bila menampik bahwa Dayak di bilang sesat….

  • talino August 4, 2010 at 11:45 am

    saya merasa senang bahwa dayak itu ada di mana-mana, dan bukan hanya di Kalimantan tetapi juga tersebar di seluruh nusantara ini, dan MUI segera di bubarkan, karena sudah meresahkan rakyat Indonesia. Ormas yang tidak punya Reputasi yang pandainya mengoreksi tapi tidak punya harga diri……….

Post comment

Anti-Spam Protection by WP-SpamFree