Soeharto, Introspeksi untuk Sebuah Bangsa
Innallilahi wa innalilahi roji’un…
Telah berpulang ke Rahmatullah, seorang HM Soeharto. Mantan Presiden RI ke 2 di usia ke 87 tahun.
Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisiNya.
Soeharto, sosok seorang negarawan yang pernah memimpin negara ini selama 32 tahun. Selama berkuasa 32 tahun banyak kontroversi yang terjadi baik dari sisi politik, sosial dan ekonomi.
Banyak orang yang merasa kecewa selama kepemipinan beliau dengan segala alasannya, namun tidak sedikit juga yang merasa bangga dan senang selama masa kepemimpinan beliau.
Negara ini telah kehilangan tokoh besar, yang kharismatik dimata rakyat kecil dan orang orang terdekatnya.
Bagi kalangan orang-orang yang merasa kecewa dan sakit hati atas kepemimpinan beliau, mungkin akan sangat kecewa karena beliau bisa lolos dari jeratan hukum atas segala kontroversi. Yang pasti ada dua sisi mata uang pada era kepemimpinan beliau. Tulisan ini hanya ingin mengangkat sosok Soeharto sebagai manusia biasa yang pernah menjadi penguasa di negara ini.
Berbagai testimonial mengenai pribadi dan sikap beliau mengisi deadline berita di media pada saat-saat akhir hidupnya.
Di sudut pandang rakyat kecil, sosok Soeharto adalah seorang tokoh yang mampu memberikan kestabilan ekonomi yang cukup baik, terlepas dari proses yang dilakukan untuk menjadikan kestabilan ekonomi dinegara ini pada kepemimpinan beliau.
Pada masa kepemimpinannya hampir tidak terjadi seperti yang terjadi saat ini, harga-harga kebutuhan pokok membumbung tinggi dilangit, antrian minyak tanah dimana-mana.
Menurut penuturan orang-orang dekatnya, Soeharto sangat memperhatikan kondisi rakyatnya. Beliau sangat peduli dengan petani, hal ini terbukti dengan ide beliau mengadakan klompencapir, kelompok tani. Salah satu program penting yang dilakukan adalah dengan mengadakan program Swasembada beras yang berhasil pada era 1982-1984.
Pada masa tersebut bangsa ini mampu mencukupi stok beras untuk 1-2 tahun, bahkan mampu melakukan export beras ke luar negeri. Hal yang tidak ditemui pada masa setelah kepemimpinan beliau.
Beliau terkenal sangat dekat petani, hal ini yang mampu menjadikan dan mengangkat kharisma beliau dimata rakya kecil yang pernah dipimpinnya. Segala hal yang berkaitan dengan petani, beras dan pertanian sangat diutamakan.
Pertemuan dengan petani intens dilakukan, baik secara formal maupun informal.
Disisi lain sosok seorang Soeharto adalah pemimpin yang bisa dikatakan diktator tangan besi. Selama era kekuasaannya kebebasan demokrasi dikekang habis-habisan. Kebebasan pers yang memberitakan hal-hal miring mengenai beliau akan dibredel, kebebasan mengemukakan pendapat didepan umum dan demonstrasi dilarang, black list atas mantan aktfis parpol komunis,penculikan aktivis, pembungkaman atas kritik kepemimpinan beliau terjadi selama era kepemimpnan beliau.
Selain itu kasus KKN yang hingga saat ini tidak selesai juga menghiasi masa-masa di era kekuasaan beliau. Lawan-lawan politiknya selalu memanfaatkan hal tersebut sebagai komoditi yang empuk.
Namun terlepas dari itu semua, beliau hanyalah sosok manusia biasa. Sosok manusia yang juga memiliki hati nurani sama seperti saya, anda dan semua rakyat indonesia.
Sejenak, marilah introspeksi atas segala yang pernah dilakukan bagi bangsa ini. Sebagai bangsa yang bermartabat dan berkemanusiaan, mari kita berikan penghormatan dan penghargaan terakhir untuk beliau sebagai sesama manusia yang pernah memimpin negara ini.
Jadikan semua yang telah dilakukannya sebagai refleksi untuk bangsa ini. Untuk meneruskan sesuatu yang baik yang ditinggalkannya, memperbaiki yang telah rusak dan meluruskan segala sesuatu yang melenceng dari jalannya.
Bagi semua lawan politiknya, berikanlah penghormatan terakhir kepada beliau sebagai sesama manusia untuk sekedar tenang di alamnya yang baru, seperti ungkapan jawa “tega uripe, ora tega lara ne, tega lara ne ora tega pati ne”
Selamat jalan Pak Harto….
Semoga di alam mu yang baru, Tuhan memberikan pengadilan yang lebih adil dengan ke-Mahatahu-annya atas segala tindakan, perilaku dan sikap yang telah anda lakukan selama mengisi kehidupan di bumi Indonesia.
3 Comments to “Soeharto, Introspeksi untuk Sebuah Bangsa”
Post comment
Kalender
Arsip
- May 2008 (1)
- April 2008 (1)
- February 2008 (2)
- January 2008 (1)
- November 2007 (2)
- October 2007 (2)

suket
yang dah tua harus dihormati jasa2nya
tapi proses hukum jalan terus….
tarik maaangggg
Selamat jalan pak..
“Berhubung daripada wafatnya Pak Harto, yang mana saya ikut mengucap-ken bela sungkawa sedalam-dalamnya”